Keanekaragaman Hayati

Wilayah projek PTFI mencakup lahan seluas 292.000 hektar di Provinsi Papua, Indonesia. Sekitar 26.000 hektar (9% dari seluruh wilayah kontrak) digunakan untuk kegiatan produksi dan ekstraksi mineral. Seluruh kawasan Selatan Papua menunjukkan tingkat endemis tinggi dan memiliki tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di Asia Tenggara.


Papilio Ulysses Autolycus merupakan kupu-kupu dengan warna paling indah di Papua yang hidup di pusat reklamasi Freeport Indonesia

Berbatasan dengan Taman Nasional Lorentz, sebuah Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) dan daerah konservasi terbesar di Asia Tenggara (lebih dari dua juta hektar). Taman nasional ini merupakan satu-satunya daerah konservasi di dunia yang mencakup transek utuh berkesinambungan mulai dari pegunungan yang tinggi hingga kawasan laut tropis, termasuk lahan basah yang sangat luas di sekitar dan sepanjang garis pantai. Freeport Indonesia telah melakukan banyak studi keanekaragaman hayati, di samping mendukung para peneliti pihak ketiga dan program pendidikan masyarakat; kami juga membantu membangun basis pengetahuan yang diperlukan untuk pengelolaan jangka panjang taman nasional.


Sejak tahun 2006, hingga kini PTFI telah melepaskan hampir 25.000 ekor labi-labi moncong babi (Carretochelys Insculpta) ke habitatnya di alam Papua

Bersama-sama para pakar Indonesia dan internasional, Freeport Indonesia terus menjalankan program pemantauan lingkungan yang mencakup survei flora dan fauna secara ekstensif di dalam berbagai rentang habitat berbeda. Lebih lanjut, sebuah prosedur baku pengoperasian (SOP) untuk pengelolaan keanekaragaman hayati sedang dikembangkan. Sebagai bentuk peran aktif dalam Keanekaragaman Hayati maupun komitmen PTFI untuk terlibat dalam kegiatan konservasi flora dan fauna endemik Papua sebagaimana yang dinyatakan di dalam Kebijakan Lingkungan Perusahaan, pada tahun ini PTFI bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Papua (BBKSDA) dan Kementerian Lingkungan Hidup melepasliarkan 1.354 labi-labi (kura-kura) moncong babi ke habitat asalnya di area Taman Nasional Lorentz. Atas berbagai upaya dan kontribusi penting untuk konservasi habitat satwa liar, pendidikan lingkungan serta upaya-upaya sukarela lain, PTFI menerima sertifikasi Wildlife at Work (akhir tahun 2011) dan dinominasikan untuk penghargaan Corporate Land for Learning Rookie of the Year (pertengahan tahun 2012) dari Wildlife Habitat Council (WHC) Amerika.


Kepiting lumpur (Sarmatium Germaini) hidup di muara area pengendapan tailing

Kami telah menjalankan, memfasilitasi, dan mendukung banyak studi ekologi dan keanekaragaman hayati untuk memfasilitasi pengelolaan keanekaragaman hayati yang efektif. Studi-studi keanekaragaman hayati ini, dilakukan bersama-sama para pakar Indonesia maupun internasional, mencakup survei vegetasi, etnobotani, tumbuhan obat, mamalia, burung, kupu-kupu, amfibi, reptil, ikan, tanah, fauna, serta serangga air dan daratan. Informasi yang tersedia mengindikasikan kemungkinan 50 spesies termasuk Daftar Merah Spesies Terancam dari International Union for Conservation of Nature (IUCN/ Badan Konservasi Alam Dunia); yang sebagian besar disebabkan langkanya data karena masih banyak yang harus dikerjakan di kawasan ini.