Pengelolaan Limbah Dan Energi

Program pengelolaan lingkungan Freeport Indonesia mencakup semua aspek kegiatan operasinya, bukan hanya yang terkait dengan pertambangan. Kami memiliki sistem pengelolaan limbah yang komprehensif menerapkan prinsip-prinsip 3R – reuse, recycle, reduction (pemanfaatan kembali, daur ulang, pengurangan). Program-program minimalisasi limbah kami melibatkan pengurangan limbah dan penggatian bahan dengan produk ramah lingkungan. Wadah besar, ampas minyak, kertas dan ban bekas digunakan kembali secara lokal setempat dengan cara yang ramah lingkungan. Bahan-bahan yang dapat didaur ulang lainnya, sebagaimana logam dan baterai bekas, dikumpulkan dan disimpan di daerah penyimpanan sementara untuk selanjutnya didaur ulang sesuai dengan peraturan Pemerintah Indonesia.

Sebagai bagian dari program 3R (Reduce-Reuse and Recycle) PTFI melanjutkan upaya untuk pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas untuk digunakan pada beberapa kendaraan ringan. Di samping itu juga terus memanfaatkan oli bekas untuk pembakaran di Pabrik Kapur Mahaka dan Pabrik Pengering Konsentrat, serta melanjutkan program daur ulang aluminium untuk dijadikan souvenir.

Material yang didaur ulang atau dimanfaatkan kembali berupa: minyak pelumas (oli) bekas yang dikumpulkan dari bengkel-bengkel di seluruh area kerja PTFI, oli/minyak pelumas bekas dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar alternatif di Pabrik Kapur Mahaka dan Pabrik Pengeringan Konsentrat di portsite; Aki/accu bekas kendaraan ringan maupun berat. Aki dikirim kepada pihak ketiga di luar area kerja PTFI dimana bagian-bagian aki yang bernilai dipisahkan, didaur-ulang dan dimanfaatkan kembali; Material lain seperti ban bekas, besi bekas, drum-drum bekas dimanfaatkan oleh pihak ketiga.

Berbagai limbah, termasuk jumlah kecil limbah berbahaya, dipisah-pisahkan di titik asal. Pengumpulan, pengemasan, dan penyimpanan limbah berbahaya yang ditimbulkan dari pekerjaan uji kadar logam (assay) terhadap sampel bijih, laboratorium analitika, sarana medik, dan proses-proses lain dikelola sesuai dengan peraturan Pemerintah Indonesia. Limbah berbahaya diangkut ke industri pengolah dalam negeri yang memiliki izin dan tidak melintasi perbatasan internasional. Pada 2011, Freeport Indonesia menghasilkan 7.937 ton limbah berbahaya, dan sekitar 21.590 ton limbah tidak berbahaya.


Memanfaatkan limbah minyak goreng yang kami olah kembali menjadi bahan bakar bio diesel.

Limbah tidak berbahaya Freeport Indonesia ditangani di tiga lokasi yang telah ditentukan, yaitu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk limbah tak bergerak dan sebuah TPA untuk limbah terurai dan limbah lainnya, yang dilengkapi dengan sebuah sistem pengumpulan dan pengolahan. Kesepuluh Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kami dikelola sesuai dengan peraturan Pemerintah Indonesia. Mutu air limbah dari semua instalasi itu dipantau secara berkala terkait dengan parameter pH, kebutuhan oksigen biologi (BOD), total padatan tersuspensi dan lemak, serta minyak sesuai dengan baku mutu.

Kami mengembangkan sebuah rencana dan mendapatkan persetujuan Kementerian Lingkungan Hidup untuk memanfaatkan abu dari unit boiler pada sarana pembangkit listrik kami yang menggunakan bahan bakar batubara yang dicampur 5 hingga10% semen untuk keperluan proyek infill di daerah operasi kami. Hal ini berguna untuk memanfaatkan timbunan abu kami untuk kegiatan produktif.

Pada tahun ini PTFI berpartisipasi dalam Penghargaan Energi Pratama 2012 yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Tim dari Balitbang-ESDM telah melakukan kunjungan sosialisasi dan identifikasi ke area kerja PTFI pada bulan Juni 2012. Program Penghargaan Energi Pratama dikhususkan bagi perusahaan yang memiliki komitmen yang tinggi untuk berpartisipasi aktif sebagai korporat yang melakukan, memberikan sumbangan nyata dalam hal pengembangan teknologi baru, inovasi, penyediaan dan pemanfaatan energi dengan prinsip konservasi dan/atau diversifikasi. PTFI juga telah melaksanakan program efisiensi energi, yang dilakukan berdasarkan rekomendasi dari audit energi oleh konsultan (ERM) pada awal tahun 2011.

Selama tahun 2011, Freeport Indonesia telah melakukan beberapa aktivitas yang berhubungan dengan pengelolaan keanekaragaman hayati di area kontrak karya pada tiga kawasan pemantauan, yaitu kawasan dataran tinggi, kawasan dataran rendah dan kawasan muara sungai. Pemantauan di kawasan dataran tinggi dilakukan di area Ertsberg dan Grasberg, di dataran rendah dilakukan di kawasan pengendapan pasir sisa tambang (sirsat) dalam Tanggul Ganda, sedangkan di kawasan muara sungai dilakukan di Sungai Mawati, Sungai Otakwa dan di Pulau Ajkwa di muara Sungai Ajkwa.