Berita

Program Pengembangan Berbasis Kearifan Lokal Tingkatkan Pendapatan Masyarakat

30 Maret 2018   |   CSR News
Share:

Kepiting Bakau (Scylla serrata) yang biasa disebut ‘Karaka’ oleh masyarakat pesisir selatan Kabupaten Mimika, merupakan salah satu komoditas perikanan pantai yang mempunyai nilai ekonomis penting. Pada mulanya Karaka hanya ditangkap secara tradisional oleh masyarakat Suku Kamoro di bawah hutan bakau (mangrove) di sepanjang pesisir selatan Mimika. Seiring berkembangnya waktu, setelah diketahui ternyata mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi, maka keberadaannya banyak diburu dan ditangkap oleh nelayan untuk penghasilan tambahan. Belakangan ini mengingat permintaan pasar ekspor akan Kepiting Bakau yang semakin meningkat dari tahun ke tahun maka sudah sepantasnyalah usaha ekstensifikasi Kepiting Bakau harus mulai dirintis untuk mengantisipasi kelangkaan bahkan kepunahan akibat dari penangkapan terus menerus.

Memperhatikan fenomena tersebut dan melihat semakin menurunnya jumlah, kualitas dan ukuran Karaka yang beredar di pasaran, PT Freeport Indonesia terpanggil untuk menjaga kelestariannya dan menjaga potensi ekonomi ini supaya lebih bermanfaat serta lebih menguntungkan masyarakat terutama para nelayan Suku Kamoro.

Sesuai dengan komitmennya dalam upaya pengembangan masyarakat di sekitar area pertambangan, khususnya daerah pesisir pantai Kabupaten Mimika di 5 Daskam (Nayaro, Koperapoka, Nawaripi, Ayuka dan Tipuka), Departemen SLD PTFI melaui Community Economic Development meresmikan program budidaya Kepiting Bakau (Karaka) bagi para nelayan tradisional dari Suku Kamoro di MP 15, Selasa (20/3). Pada peresmian program ini dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, jajaran Muspida Kabupaten Mimika dan perwakilan dari manajemen PTFI.

Adapun tujuan strategis pengembangan Kepiting Bakau ini adalah sebagai wujud komitmen perusahaan dalam pengembangan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal dengan mengembangkan masyarakat Suku Kamoro dengan 3S (Sungai, Sampan, Sagu) dan sebagai penguatan kearifan lokal (Kepiting Bakau) dengan turut menjaga keberlangsungannya melalui budidaya yang berpotensi meningkatkan ekonomi masyarakat dan menjaga kelestarian satwa endemik Mimika.

Dalam pelaksanaan program ini, PTFI telah bekerjasama melakukan pembinaan masyarakat khususnya bidang Perikanan sejak 2006 melalui program pemberdayaan nelayan di 14 kampung pesisir Mimika. Pemberdayaan ini bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Mimika, Gereja Keuskupan Mimika, USAID, LPMAK, TNI dan beberapa yayasan salah satunya Yayasan Crab Ball Indonesia.

Bentuk program antara lain memberikan dukungan sarana prasarana nelayan, pembangunan infrastruktur, penyediaan akses pasar hingga penyediaan pasar dan penguatan kapasitas. Program budidaya ini menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan program. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat juga sebagai tahapan menuju kemandirian melalui pendampingan. Rencana implementasi budidaya kepiting untuk masyarakat Kamoro menjadi bagian komitmen PTFI dalam pengembangan ekonomi masyarakat melalui pendampingan dan penguatan kemitraan dengan pemerintah. (Hendrikus)

Berita Terkait

 Berkomitmen Dukung Pemerintah Wujudkan Indonesia Bebas TB
 PT Freeport Indonesia Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Asmat
 LIMAR Terangi Tiga Kampung
 Green Mission, Misi Menjaga Keanegaragaman Hayati

Tata Kelola

Public Policy Committee of the Board of Commissioners of Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. assist the Board carry out its oversight responsibilities within the company.

Selengkapnya