Berita

Sakrias Fobia: Dalam Hidup, Tidak Ada yang Tidak Bisa

27 Oktober 2017   |   Berita Lain News
Share:

Hampir 11 tahun Sakrias Fobia mengajar Calistung – membaca menulis & berhitung, untuk siswa program Adult Education di Institut Pertambangan Nemangkawi, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

Adult Education adalah pelatihan literasi yang diinisiasi Freeport Indonesia bagi suku Kamoro dan Amungme sebagai rangkaian mempersiapkan mereka masuk ke dunia kerja.

Pria kelahiran Timor NTT, 52 tahun lalu itu, mengungkapkan awal dirinya menjadi pengajar ketika pada tahun 2007 ia berinisiatif mengajukan diri menjadi instruktur pengajar di Institut Pertambangan Nemangkawi. Pada saat itu tugasnya adalah mengajar Calistung bagi siswa-siswa Adult Education yang diperuntukkan bagi dua suku besar pemilik ulayat wilayah operasi Freeport Indonesia.

Tak terlihat tanda-tanda lelah dan jenuh di wajah Pak Zjack, biasa ia dipanggil, ketika mengajar siswa-siswa yang bukan lagi di usia anak sekolah. Bagi sebagian besar orang, mengajar Calistung mungkin hal yang mudah apalagi yang diajar adalah anak usia sekolah. Namun pengalaman Pak Zjack sangat berbeda, murid yang harus ia latih berkisar usia 20-30 tahun. Muridnya pun berasal dari kampung di pegunungan serta pesisir selatan Mimika. Karena mengajar adalah panggilan hatinya, maka Pak Zjack dengan sepenuh hati mengajar dan mendidik para muridnya.

Ia memiliki trik tersendiri untuk bisa berbaur dengan muridnya yang notabene bukan anak usia SD yaitu ia masuk dengan pendekatan budaya dan bahasa. Untuk itu, ia pun tak segan mempelajari beberapa kata sederhana bahasa Kamoro dan Amungme untuk memudahkan ia berkomunikasi dengan muridnya. Setelah itu ia perlahan mengenalkan inti pelajarannya. “Untuk pelajaran berhitung, murid saya tidak bisa diajari langsung mengenal angka, saya harus menggunakan contoh visual,” ujarnya. Contohnya ia menggunakan gambar hewan yang akrab dikeseharian muridnya tersebut, contohnya gambar babi, kuskus dan ayam.

Jiwa ingin mengabdi kepada masyarakat sangat kental ia rasakan, misalnya di dalam kelas, selain mengajar ia juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan atau dikenal sebagai Kelas Penyadaran. Yaitu menyadarkan murid tentang nilai-nilai kehidupan yang harus mereka gunakan untuk mencapai tujuannya. Misalnya, disiplin mengatur ketepatan jam masuk, hidup sehat dan bersih sebelum sekolah. ”Di awal saya memberi pemahaman kepada murid saya kenapa kita harus belajar, kemudian saya mencontohkan salah satu tokoh Amungme-Kamoro yang sukses di Freeport agar bisa mereka jadikan panutan.”

Mengajar seperti Pak Sakrias ini bukan ijazah mengajar yang diperlukan namun yang paling utama adalah kesabaran dan ketekunan mendidik karena rata-rata muridnya memerlukan waktu tiga tahun untuk lulus Calistung. Tentu semuanya tidak berjalan mulus terutama banyak suka duka yang sudah ia alami dengan berbagai latar budaya muridnya. Dukanya ketika para murid sudah demotivasi belajar dan ingin cepat bekerja, padahal mereka masih belum menguasai Calistung. Bahkan tidak semua murid yang ikut program Pendidikan Orang Dewasa ini memiliki minat untuk belajar. Maka para instruktur harus pandai-pandai mempelajari individu yang ada. Yang selalu ia tekankan di kelas bahwa tidak ada yang hebat karena semua disini untuk belajar, maka mereka harus mendengarkan instruktur agar mencapai tujuannya.

”Ibaratnya saya tidak hanya menjadi guru bagi muridnya, namun harus bisa menjadi ahli ekonomi, pendeta dan bahkan menempatkan dirinya sebagai perpanjangan tangan dari orang tua/ keluarga  karena program ini tujuannya baik untuk hidup mereka ke depan,” ungkapnya. Ia pun bangga ketika muridnya dinyatakan lulus dan bisa bekerja. Dalam setiap pertemuan ia berusaha agar ada nilai pengetahuan dan kehidupan yg bisa dibawa pulang untuk merubah mereka menjadi lebih baik.

Bapak empat anak ini saat ini sudah menginjak 20 tahun bekerja di Freeport. Sebelum bergabung di IPN, Sakrias sempat ditempatkan di bagian Malcon (Malaria Control) Departemen Community Health Development. Sepanjang dua dekade pengabdiannya di perusahaan, hal yang paling berkesan baginya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat di sekitar wilayah tambang melalui instruktur Adult Education. Sesuai dengan moto hidupnya ”Tidak ada yang tidak bisa dalam hidup”. (Trian P)

Berita Terkait

 Peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia di area kerja Freeport Indonesia
 PT Freeport Indonesia Raih Penghargaan dalam Indonesia Most Admired Companies (IMACO) Award 2017
 Tim ERG Bantu Evakuasi Kecelakaan Pesawat Cesna
 PTFI Menerima Piagam Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) untuk Rekor Dunia Masjid dan Gereja di Lokasi Terdalam dan Elevasi Tertinggi

Tata Kelola

Public Policy Committee of the Board of Commissioners of Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. assist the Board carry out its oversight responsibilities within the company.

Selengkapnya