Berita

Bangga Terbangkan Pesawat ke Kampung Halaman

19 Oktober 2015   |   CSR News
Share:

Kisah Sukses Pilot Pertama Suku Moni

"Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Kesulitan hidup yang kita rasakan merupakan anugerah Tuhan. Ketika kita selalu bersyukur, maka Tuhan akan membuka jalan agar kita bisa keluar dari kesulitan yang kita hadapi".

Sepenggal kalimat itu diucapkan oleh Alion Belau, pilot pertama asal Suku Moni, salah satu suku dari kekerabatan 7 suku di sekitar Mimika, saat menggelar acara syukuran atas kelulusannya dari sekolah penerbangan Genesa Fligth Academy, Jakarta. Meski belum diwisuda, sejak sepekan lalu Alion telah dipercayakan untuk mengawaki pesawat Cessna Grand Caravan milik PT Aviosindo Perkasa yang berbasis di Nabire. Alion Belau mendapat predikat lulusan terbaik asal Papua saat lulus dari Genesa Fligth Academy.

Perjalanan Alion hingga mencapai titik ini tidaklah mudah. Banyak tantangan dan rintangan yang dilalui Alion. Kondisi perekonomian keluarganya sesungguhnya tidak memungkinkan Alion menempuh pendidikan.

"Ayah saya biasa berburu hewan di hutan. Uang hasil jualan hewan buruan itulah yang dipakai untuk membiayai sekolah saya," tutur Alion.

Di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit keluarganya, Alion memohon kepada orang tuanya untuk membiayai pendidikan ke jenjang SMP. Melihat kesungguhan putranya itu, pasangan Aser Belau-Justin Selegani menyekolahkan Alion ke SMP Advent Timika.

"Saya mengalami banyak kesulitan. Ekonomi orang tua pas-pasan, bahkan mungkin tidak pas. Makanya saya tidak pernah bolos dari sekolah. Setiap hari saya mengayuh sepeda dari Kwamki Lama ke sekolah. Saya berjuang keras melihat kehidupan keluarga kami yang serba kekurangan," tutur Alion mengisahkan perjalanan hidup semasa sekolah. Berbekal tekadnya yang kuat untuk sekolah itu, Alion dengan giat dan tekun menyelesaikan pendidikannya.

Setelah lulus SMP, Alion memutuskan untuk mengikuti seleksi siswa penerima beasiswa dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), lembaga nirlaba yang mengelola dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia untuk dikirim ke luar daerah.

Alion berhasil lolos seleksi dan dikirim ke Yayasan Bina Teruna Bumi Cenderawasih (Binterbusih) Semarang, salah satu mitra LPMAK di Bidang Pendidikan. Siswa-siswi yang dikirim LPMAK ke beberapa kota studi tidak langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA/SMK. Selama setahun peserta beasiswa LPMAK harus mengikuti program matrikulasi agar dapat menyesuaikan kemampuan dengan siswa dari daerah lain yang dianggap lebih maju.

"Tahun berikutnya saya baru melanjutkan pendidikan ke SMA Theresiana II Semarang. Semua biaya dan keperluan sekolah saya ditanggung penuh oleh LPMAK. Kami hanya fokus untuk belajar," ujar Alion.

Semasa belajar di Semarang itu, Alion terus memantapkan tekadnya agar kelak bisa menjadi seorang pilot. Dengan alasan itulah, Alion terus mengasah kemampuan bahasa Inggris dan pelajaran sains.

Di sela-sela waktu sekolah dan pelajaran tambahan di Asrama Binterbusih Semarang, Alion mengikuti kursus bahasa Inggris.

"Setiap hari saya berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk ikut kursus bahasa Inggris di Semarang. Saya gunakan uang saku yang diberikan LPMAK sebesar Rp 250,000 per bulan untuk membiayai kursus bahasa Inggris selama enam bulan," tuturnya.

Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang cukup mahir, Alion dipercayakan oleh rekan-rekan di sekolahnya untuk menjadi juru bahasa asing setiap kali ada kunjungan tamu asing ke salah satu sekolah unggulan di Kota Semarang itu.

Pergulatan batin Alion untuk terus menggapai cita-citanya menjadi seorang pilot kian terasa saat memasuki masa-masa akhir di bangku SMA.

Saya berpikir, tidak mungkin saya bisa menjadi seorang pilot karena biaya sekolah pilot sangat mahal," ujarnya. Meski begitu, Alion tetap rajin mengakses informasi sekolah penerbangan melalui internet. Dari usahanya itu, Alion mendapat informasi ada sebuah lembaga pendidikan tinggi penerbangan di Jakarta yang membuka penerimaan mahasiswa calon penerbang dengan biaya pendaftaran Rp 2,700,000.

Berbekal uang hasil jualan ternak babi ibunya, Alion memutuskan untuk berangkat dari Semarang ke Jakarta menggunakan kereta api ekonomi. Sebagai bekal di perjalanan, pimpinan Yayasan Binterbusih Semarang Paul Sudiyo memberi tambahan uang Rp 1,000,000.

Namun lantaran terlambat saat hendak mengikuti tes, Alion diminta oleh lembaga pendidikan penerbangan tersebut untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya. Rupanya Tuhan punya rencana lain. Beberapa jam setelah itu, Alion menerima informasi dari Paul Sudiyo bahwa salah satu mitra Biro Pendidikan LPMAK, George Resubun akan melakukan seleksi sekolah pilot kepada peserta program beasiswa LPMAK. Setelah menerima informasi itu, Alion langsung kembali ke Semarang.

Beberapa waktu kemudian digelar seleksi calon siswa penerbangan oleh George Resubun, mantan Pilot dan mekanik Twin Otter maskapai Merpati Nusantara Airlines.

Dari beberapa siswa Papua yang mengikuti seleksi itu, hanya Alion yang dinyatakan lulus. Ia sempat mendalami kursus bahasa Inggris di Balikpapan, Kalimantan Timur sebelum melanjutkan pendidikan sekolah penerbangan di Amerika Serikat pada 2013.

"Tanggal 1 April 2013 saya tiba di Amerika. Keesokan harinya saya langsung diajak terbang. Selama delapan bulan saya menerbangkan pesawat single engine dengan 74 jam terbang melalui Program Private Pilot License (PPL) di Sekolah penerbangan Pro Aircraft Flight Training, Fort Worth, Dallas Texas," tutur Alion.

Sekembali dari Amerika, Alion melanjutkan pendidikan calon pilot di Genesah Flight Academy Jakarta hingga dinyatakan lulus pada 21 September 2015.

Alion yang kini sudah resmi berprofesi sebagai pilot mengaku sangat bahagia tatkala bisa menerbangkan pesawat ke kampung halamannya di Homeo, Kabupaten Intan Jaya. "Beberapa hari lalu saya menerbangkan sendiri pesawat ke daerah saya sendiri. Saya bangga bisa membantu masyarakat saya," ujar Alion. Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada LPMAK dan PT Freeport yang telah memberikan dukungan dan bantuan luar biasa selama menempuh pendidikan sejak jenjang SMA hingga tingkat lembaga pendidikan penerbangan.

"Kalau tidak ada LPMAK dan PT Freeport, saya tidak mungkin jadi seperti sekarang ini," ujarnya. Tak lupa Alion juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada guru-gurunya di SD YPPGI Kwamki Lama dan SMP Advent Timika.

Ia berharap anak-anak Papua bisa mengikuti jejaknya, dengan catatan mereka harus bersungguh-sungguh belajar agar kelak bisa meraih impiannya. "Jalan hidup saya mungkin bisa menjadi contoh sekaligus motivasi bagi anak-anak Papua yang lain," ujar Alion Belau.

Dikutip dari Antara: Alion Belau – Pilot Pertama Suku Moni oleh Evarianus Supar 

Berita Terkait

 Berkomitmen Dukung Pemerintah Wujudkan Indonesia Bebas TB
 Program Pengembangan Berbasis Kearifan Lokal Tingkatkan Pendapatan Masyarakat
 PT Freeport Indonesia Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Asmat
 LIMAR Terangi Tiga Kampung

Tata Kelola

Public Policy Committee of the Board of Commissioners of Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. assist the Board carry out its oversight responsibilities within the company.

Selengkapnya