Bos Freeport Buka-bukaan Jurus Tekan Emisi Karbon di Tambang

03 November 2021

Dunia saat ini tengah fokus pada isu perubahan iklim. Berbagai korporasi besar di dunia pun turut berpartisipasi dalam hal ini, termasuk Indonesia. Di sektor pertambangan, PT Freeport Indonesia melakukan beberapa strategi untuk menekan emisi karbon dalam kegiatan penambangannya. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, upaya mengurangi emisi karbon sudah menjadi komitmen perusahaan.

"Komitmen kami adalah untuk mencapai pengurangan 30% pada tahun 2030 yakni pengurangan intensitas dari greenhouse gas," ungkapnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, dikutip Rabu (03/11/2021). Dia menjelaskan, saat ini penambangan Freeport di area terbuka sudah selesai, dan berganti ke area tambang bawah tanah. Pihaknya kini melakukan efisiensi energi dengan memanfaatkan kereta listrik bawah tanah.

Dengan kereta bawah tanah, maka sudah tidak lagi menggunakan truk berbahan bakar diesel/ Solar. Kereta bawah tanah ini dimanfaatkan untuk mengangkut bijih sebanyak 300 ton sekali angkut. "Ini gantikan truk yang gunakan diesel fuel, ini tenaganya listrik dan dikendalikan jarak jauh. Ini setiap truk kurangi 80.000 ton CO2," paparnya.

Selain itu, energi listrik yang digunakan sekarang menggunakan pembangkit listrik berbasis dual fuel, yakni menggunakan biodiesel 20% (B20) dan B30 yang lebih ramah lingkungan dan juga bisa menggunakan gas. "Ini PLTMG, pembangkit minyak dan gas kapasitas 130 MW," lanjutnya. Menurut Tony, pihaknya juga melakukan upaya daur ulang oli bekas untuk mendukung pemerintah memerangi perubahan iklim.

"Bahan bakar recycle jadi bahan bakar untuk pabrik pengeringan kami di low land di pelabuhan dan juga untuk pabrik pengolahan kapur kami di Grasberg," ujarnya. Lebih lanjut dia mengatakan, Freeport terus mencari alternatif agar kegiatan operasionalnya memperhatikan upaya pencegahan perubahan iklim. PT Freeport Indonesia menargetkan tahun depan tambang bawah tanah bisa beroperasi penuh alias 100% kapasitas dari saat ini baru mencapai 90%.

Dengan mulai beroperasinya tambang bawah tanah ini, Freeport memperkirakan akan memproduksi emas 1,5 juta ons dan produksi tembaga mencapai 1,5 miliar pon pada 2022. Ini artinya, akan ada kenaikan dibandingkan produksi tahun ini. Hingga akhir 2021 ini diperkirakan Freeport memproduksi 1,3 juta ons emas dan hampir 1,3 miliar pon tembaga.

 

https://www.cnbcindonesia.com/news/20211103194936-4-288812/bos-freeport-buka-bukaan-jurus-tekan-emisi-karbon-di-tambang

 

Back to List

Berita Selanjutnya

17 October 2020

Papua kembali menunjukkan keanekaragaman hayatinya melalui penemuan du...

25 November 2020

Universitas Cenderawasih (UNCEN) bekerja sama dengan PT Freeport Indon...