PTFI Smelter Terapkan Zero Waste, Wujudkan Komitmen Kelestarian Lingkungan

20 February 2024

Jakarta, 19 Februari 2024 – PT Freeport Indonesia (PTFI) memastikan setiap proyek pembangunan yang dilakukan menerapkan aspek Safety dan Environment, salah satunya dengan menerapkan Zero Waste dalam operasi fasilitas pemurnian di Smelter PTFI, Gresik, Jawa Timur.  

“PTFI dalam setiap perencanaan dan pengembangan proyek-selain pertimbangan faktor teknologi, operatability, dan ekonomi- juga selalu memasukkan pertimbangan faktor Safety dan Environment,” kata VP Government Relation & Smelter Technical Support Harry Pancasakti dalam workshop bertajuk “Industri Hijau, dari Gresik untuk Indonesia” yang diadakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gresik dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2024 di Jakarta, Senin. 

Zero Waste, lanjut Harry, artinya semua limbah yang dihasilkan Smelter PTFI akan dimanfaatkan sehingga selain produk utama smelter, akan ada juga produk samping dari pengolahan limbah yang dapat diserap dan dimanfaatkan.  

Untuk diketahui Smelter PTFI merupakan pabrik pemurnian yang memurnikan konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga. Katoda tembaga merupakan produk utama Smelter PTFI dan menjadi bahan baku untuk berbagai industri hilir seperti kabel, elektronik, dan listrik.  

Selain katoda tembaga, Smelter PTFI menghasilkan produk lain seperti emas, perak murni, Platinum Group Metals (PGM yaitu platinum dan paladium), selenium, bismut, dan timbal serta produk samping hasil pengolahan limbah berupa asam sulfat, terak tembaga, dan gipsum. 

“Limbah ini kami mitigasi supaya bukan hanya tidak mencemari lingkungan, tapi juga bisa bernilai ekonomi,” kata Harry. 

Ia menjelaskan melalui penerapan Zero Waste maka tidak ada lagi limbah karena seluruh produk utama dan produk sampingnya akan terserap dan dimanfaatkan.  

“Seperti Copper Slag atau Terak Tembaga dan gipsum akan diserap oleh pabrik semen, asam sulfat akan diserap pabrik pupuk dan timbal akan diserap oleh pabrik baterai,” katanya.  

Selain mengelola limbah hasil pemurnian tembaga, Smelter PTFI juga menunjukkan komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan memberdayakan usaha lokal di Gresik melalui berbagai program.  

Salah satunya membangun fasilitas pengolahan sampah daur ulang sementara Bernama Pusat Transformasi Bersama (PTB). Ini merupakan kerja sama PTFI dengan Yayasan Takmir Masjid Jami Manyar (YATAMAM) dan PT Raya Manyar Persada (RMP).  

“Limbah kayu dan besi dari proses pembangunan smelter PTFI, diolah PTB menjadi barang jadi seperti meja dan kursi yang didistribusikan dan dialokasikan untuk anak-anak yatim dan program pengembangan masyarakat sekitar Desa Manyar. Desa dimana smelter PTFI berada,” kata Harry. 

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik Ahmad Nurhamim yang juga narasumber dalam kegiatan ini berharap keberadaan smelter PTFI betul-betul memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar misalnya dalam pengelolaan limbah, hingga kemiskinan dan pengangguran.

“Kami berharap keberadaan smelter PTFI di Gresik dapat membantu berbagai problem yang dihadapi daerah (Gresik),” katanya.  

Sementara itu peserta workshop yang merupakan wartawan anggota PWI Gresik mengapresiasi Smelter PTFI atas penyerapan tenaga kerja lokal.  

“Saya tinggal di salah satu desa yang dekat dengan Smelter PTFI. Saya  mengapresiasi smelter PTFI untuk penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Gresik. Sekarang saya tidak punya teman dan tetangga untuk ngopi sore karena semuanya sudah bekerja di PTFI Smelter,” kata wartawan Jatimtimes.com Syaifuddin Anam. Adapun pembangunan Smelter PTFI merupakan mandat Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PTFI. Smelter berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Ini merupakan smelter kedua PTFI. Smelter pertama dibangun pada 1996 dan dikelola oleh PT Smelting.  

PTFI telah menanamkan investasi hingga 3,1 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp48 triliun per akhir Desember 2023.  

Smelter tembaga dengan Design Single Line terbesar di dunia ini nantinya mampu memurnikan konsentrat tembaga dengna kapasitas produksi 1,7 juta ton dan menghasilkan katoda tembaga hingga 600.000 ton per tahun. 

FOTO KETERANGAN

Workshop bertajuk “Industri Hijau, dari Gresik untuk Indonesia” dengan narasumber VP Government Relation & Smelter Technical Support, Harry Pancasakti (tengah) dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik. Ahmad Nurhamim (kanan). Acara dipandu moderator Aries Wahyudi, Penasehat PWI Gresik (kiri).

Ki-ka : Aries Wahyudi – Penasehat PWI Gresik, Deni Alisetiono – Ketua PWI Gresik, Harry Pancasakti – VP Government Relation & Smelter Technical Support, Ahmad Nurhamim – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik dan Muhammad Firman Syah – Ketua panitia HPN 2024 untuk PWI Gresik. 

***

Info Kontak

Katri Krisnati 
Vice President, 
Corporate Communications 
PT Freeport Indonesia 
0811 173947 
kkrisnat@fmi.com 

Desy Saputra
Manager External Relations
Corporate Communications
PT Freeport Indonesia
081284817710 
rsaputra24@fmi.com 

Back to List

Next News

news thumb 2
05 May 2017

The Amungme and Komoro People’s Development Institute (LPMAK) , a part...

20 July 2017

Freeport Indonesia has taken on board the local Mimika administration...